Our Members

Mulan

Mulan Cahyani Suciadi

si Tukang Ngatur

Ibu tomboy ini berpendapat bahwa sistem pendidikan yang ada sekarang masih sangat perlu ditambahkan ‘bumbu’ berupa kecintaan terhadap proses belajar, dan benang merah yang menghubungkan antara diri si pembelajar dengan alam sekitarnya.

Maka, tak lama setelah melahirkan putri semata wayangnya, ia memilih jalur homeschooling sebagai metode belajar di keluarganya. Kamu bisa menemukan Mulan sedang memeluki pohon-pohon dan mengobrol serius tentang masalah-masalah dunia dengan kucing, ayam, dan burung-burung merpati, atau tenggelam dalam buku-buku sastra koleksinya, benaknya melayang ke negeri-negeri yang jauh.
Mulan berharap, di masa depan akan lebih banyak lagi orang tua yang menyadari bahwa mereka sangat mampu dan memang wajib membersamai anak-anak dalam menumbuhkan pohon pengetahuan di tengah-tengah ruang nalar keluarga.
“Orang tua tidak perlu ja

di yang paling pintar di keluarga,” kata Mulan, “asal orang tua selalu sadar bahwa proses belajar tak pernah berakhir hanya karena orang dewasa sudah lulus sekolah atau berstatus orang tua.” Seiring anak bertambah pengetahuan, begitulah pula seharusnya orang tuanya, jadi bukan hanya umurnya saja yang bertambah. Fatal jika orang tua meyakini bahwa saat dirinya sudah jadi orang tua, maka sudah jadi yang maha-tahu. Tak perlu menunggu lama hingga kemampuan anak yang diiringi pesatnya arus informasi dan teknologi akan jauh melewati orang tua yang berhenti mencari ilmu pengetahuan, jelas Mulan.


Mulan percaya keluarga adalah guru pertama anak-anak. Kehangatan di dalam keluarga akan menjadi bantal empuk tempat seorang anak bersandar sambil belajar dan bertumbuh lewat buku-buku dan narasi.
“Proses belajar selalu melibatkan jatuh dan bangun, maka orang tualah yang seharusnya menjadi perawat anak-anak saat mereka terluka dalam kegiatan belajarnya, dan menyemangati mereka untuk maju lagi,” kata Mulan.

Nadh

Nadhifia Humaira Azuri

si Tukang Gambar

Menurut perspektif Nadhia, pendidikan indonesia hanya menitikberatkan bidang akademis dan memakai satu metode saja. Ini sayang sekali, katanya, karena alangkah baiknya jika anak tidak disuapi, bahkan disemangati agar bereksplorasi dan menemukan metode belajar mereka sendiri di segala tingkat pendidikannya.


Sebagai seorang pelajar, Nadhia bergumul dengan rasa tak aman, tumbuh dalam dunia yang menganakemaskan mereka yang jago Matematika, sementara Nadhia lemah dalam mata pelajaran itu. Nadhia juga banyak bertemu dengan guru yang belum tahu cara mengolah kata-kata yang terlontar dari mulut, dan tidak memahami anak. “Kepintaran bukan jaminan seseorang mampu jadi pengajar,” kata Nadhia, “guru wajib memahami muridnya.” Guru wajib mengerti dasar psikologi anak, terutama pengajar jenjang TK-SD, karena ini fondasi seorang anak, saran Nadhia. Tak hanya mengerti, guru juga wajib menerapkan pengetahuannya ini setiap kali mereka mengajar.


Nadhia dibesarkan oleh ibu tunggal yang “keren tapi galak.” Nadhia mengakui, dulu ia tidak tahu apa peran penting orang tua dalam pendidikan; teman-temannya-lah yang menceritakan pengalaman mereka dan menyadarkan Nadhia. Lewat kasih sayang, orang tua membimbing dan mendukung anak membentuk karakternya, kepercayaan dirinya, dan menumbuhkan motivasi belajarnya. Saat anak tidak memiliki kepercayaan terhadap dirinya sendiri, mereka tidak akan percaya bahwa mereka bisa mempelajari sesuatu.


“Inti belajar adalah adanya perubahan,” kata Nadhia, “dan perubahan ini tidak hanya didapatkan dari sekolah. Justru titik utama adanya perubahan ini berawal dari keluarga.” Validasi, kritik dan solusi dari orangtua penting untuk perkembangan emosional dan akademik anak, tambah Nadhia. Bagi Nadhia, guru adalah orangtua kedua seorang anak.

Neng

Fyleanna “Neng” Prayitno

si Tukang Hitung Koin

Remaja dua belas tahun ini mendengar cerita mengenai sistem pendidikan dan cara belajar para murid lewat orang tuanya. Neng familiar dengan istilah “sistem kebut semalam,” yaitu menghafal mati-matian semua bahan belajar sehari sebelum ujian. Kemudian, setelah selesai ujian, semua hafalan ini dilupakan. Neng juga tahu cara-cara murid menyontek saat ujian dan tertawa-tawa saat mendengarnya.

Neng punya teman yang awalnya homeschooler, lalu kemudian bersekolah. Neng ingat, temannya ini bercerita, saat jadi homeschooler, dirinya merasa tak pernah belajar. Tetapi kemudian di sekolah, tanpa perlu belajar pun, ia sudah bisa mengungguli teman-temannya yang selalu bersekolah. 

Mendengar cerita-cerita itu, Neng dulu mengatakan pada orang tuanya, bahwa ia merasa dirinya bosan jadi homeschooler. Hari-hari diisinya dengan bermain di kebun bersama para hewan dan bunga-bunga, memanjat pohon dan genteng, mengobrol bersama para tukang, membaca buku-buku petualangan yang seru dan melamun, menggambar, menulis, atau membuat karya. Satu-satunya kesulitan Neng hadapi saat ia mengerjakan soal Matematika yang tidak disukainya. Rasanya santai sekali hidupku, keluhnya. 

Saat ibunya diundang mengajar di sekolah selama setahun, Neng pun ikut bersekolah bersama murid-murid yang lain. Selama setahun itu, Neng menyadari, bahwa di sekolah pun, ia tidak banyak belajar hal baru, karena ternyata, saat bermain di rumah, ia belajar macam-macam bahkan lebih dalam dan luas daripada apa yang dipelajari di sekolah. Hari-harinya diisi dengan banyak kegiatan persekolahan, dan tentu saja, saat-saat bermain dengan teman-teman. Hal yang Neng ingat benar selama setahun itu adalah berapa banyak celana dan kaus kakinya yang robek karena terlalu asyik bermain, serta betapa lelahnya dirinya sehingga langsung tertidur selama perjalanan pulang dari sekolah menuju rumah.

Maka Neng menyadari, bahwa belajar memang sudah seharusnya menyenangkan. Sistem pendidikan Indonesia yang serba ditarget tidak bisa menunjukkan kebahagiaan apa yang bisa seorang pembelajar dapatkan dalam prosesnya mempelajari sesuatu. Menurut Neng, ini masalah besar. Neng berharap, pendidikan indonesia berubah dari “fire and forget” menjadi lebih seru dan menempel di otak para anak.

“Proses mengetahui sesuatu yang baru, ibaratnya seperti membuka kado ulang tahun. Setiap tarikan pita, setiap selotip yang kita lepas, kita akan makin bersemangat. Ini menyenangkan, bukan?” kata Neng. Tentu saja kita juga ingat hadiah ulang tahun kita sampai kapanpun, tambah Neng.

“Sebagai homeschooler, aku merasakan senangnya belajar bersama orang tua, betapa serunya mengobrol dengan seseorang yang sudah kenal dirimu sejak lahir,” kata Neng. Ia juga melihat, banyak anak yang tidak dekat dengan orang tua mereka. Sayang sekali, keluhnya.

Neng merasa jauh lebih cepat bertumbuh bersama orang tua dan lebih dewasa daripada teman seusianya, dan salah satu bukti tak terbantahkan yang Neng lihat di dalam dirinya adalah ia lebih sering terlihat membaca buku daripada memegang HP.

Trie

Trie Wahyuni S.S.

si Paling Sibuk

Trie lahir dari pasangan orang tua yang penuh birokrasi dan ini menjadi atmosfernya dalam bertumbuh.  Menilik ke masa kecilnya, Trie ingat dirinya tidak suka dipuji berlebihan, karena menurutnya, pujian adalah beban berat yang setiap hari harus dipikul, padahal kenyataannya manusia tidak sempurna dan tidak selalu harus baik terus. Ketika Trie dapat nilai baik, maka keluarganya memberi banyak pujian dan hadiah, sebaliknya, ketika ia dapat nilai buruk di sekolah, maka hukuman yang ia peroleh. Padahal Trie sudah berusaha semaksimal ia mampu, tapi keluarganya hanya melihat hasil akhirnya, dan tidak memedulikan proses. 

Trie juga ingat, saat orang tua berkumpul dengan teman-teman, mereka saling pamer kehebatan atau nilai anak. Di rumah, anak terbebani harus mendapat nilai bagus agar orang tua senang dan bisa menuai pujian. Trie kesal karena di masa sekolahnya itu tidak sedikit anak menghalalkan segala cara supaya mereka memperoleh nilai bagus dan tidak bikin orang tua marah. 

Menurut Trie, saat nilai akademis anak jelek, maka sebaiknya keluarga mendukung anak. Tak jarang, pada saat itu, materi pelajaran belum sanggup dicerna anak, dan di sinilah orang tua seharusnya membantu mencarikan solusi bagi masalah yang anak hadapi dan tidak menghakimi ataupun menghukum anak. Sudah menjadi tugas orang tua untuk belajar memahami kemampuan dan kemauan anak karena orang tua tidak menjalani hidup anak, tidak bisa menemani anak sampai akhir hayat si anak. Orang tua wajib sibuk demi memberikan bekal supaya anak bisa hidup dan berkehidupan, tegas Trie. 

Kesabaran orang tua mesti sedalam samudera. Mereka perlu sabar memberikan contoh, menjelaskan, menyemangati, dan juga mendoakan. Dalam keadaan lelah seperti apapun, orang tua tetap harus ada untuk anak, menerima keluh-kesah dan menjawab setiap pertanyaan anak. Selain itu, menurut Trie, orang tua harus berani meminta maaf kepada anak jika salah, juga berani mengakui kekalahan saat anak lebih unggul. 

Trie berharap, keluarga bisa membersamai anak bertumbuh menjadi pribadi yang peka dengan lingkungan, hidup mandiri dan punya inisiatif dalam menghadapi masalah tak terduga dan selalu yakin bahwa tidak ada usaha yang berhasil sempurna tanpa doa kepada pencipta-Nya. Tak ada yang lebih penting daripada mengajarkan anak bertanggungjawab terhadap diri sendiri dan lingkungannya.

“Katakan kepada anak, bahwa hidup seperti tongkat estafet, arahnya maju terus, pantang mundur. Jangan berdiam diri menyesali kegagalan, cari solusinya. Tak perlu mencari siapa pembuat masalahnya. Dengan begini, api dendam mudah padam,” kata Trie.