
“Wah, kamu sudah besar!” kata ayah mertua saat kami anjangsana ke rumahnya. Beliau memang jarang ketemu cucunya. “Umur berapa sekarang?”
“Empat tahun, Eyang,” jawab Neng sambil duduk di sofa di samping kakeknya. “Eyang lagi apa?” Papa menunjukkan koran yang sedang dibacanya agar Neng bisa melihatnya juga. Beliau menunjukkan foto hitam-putih di sana dan membalik-balik halaman koran yang besar itu di meja kecil di hadapan mereka. Saya meninggalkan mereka dan menemui Mama di dapur. Letak dapur bersebelahan dengan ruang menerima tamu.

“Kamu sudah bisa membaca, belum?” tanya Papa pada Neng. Saya tidak bisa mendengar jawaban Neng dari dapur, namun saya tahu jawaban yang ia berikan: ia belum bisa membaca. Tetapi saya bisa mendengar kata-kata Papa yang berikutnya kepada Neng.
“Kamu sudah besar, seharusnya sudah bisa membaca. Minta Mamimu mengajari kamu membaca, supaya kamu pintar.”
Seminggu setelah kunjungan itu, saya perhatikan Neng sering merenung dan tak seceria biasanya. Jadi, saya mengajaknya duduk bersama dan mengobrol. Kami membahas banyak hal penting seperti telur burung merpati dan kuncup bunga matahari, sampai Neng beringsut mendekat dan bersandar ke tubuh saya. Ekspresinya meredup, seperti awan hujan yang menggantung di langit.
“Mami, apa aku bodoh?”
“Neng punya alasan buat pertanyaan tadi?” tanya saya pelan, walaupun agak kaget.
“Eyang bilang, umur empat sudah besar, aku harusnya sudah bisa baca. Aku belum bisa baca. Berarti aku bodoh.”
Walaupun aturan resmi Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melarang adanya pelajaran membaca bagi siswa TK, banyak orang tua, bahkan lembaga pendidikan, menyisipkan kurikulum belajar membaca ke dalam keseharian anak. Dengan bisa membaca, mereka berpendapat anak-anak yang lulus TK B “siap berkompetisi” saat masuk SD. Benarkah?
Saya menyarankan semua orang tua yang memiliki anak usia dini untuk membaca tulisan Susan R. Johnson, MD, FAAP, dokter spesialis anak bidang perilaku dan tumbuh kembang, dalam artikelnya yang berjudul “A Developmental Approach Looking at the Relationship of Children’s Foundational Neurological Pathways to their Higher Capacities for Learning”.
Berikut linknya dalam Bahasa Indonesia:
https://cmindonesia.com/kapan-anak-siap-belajar-baca-tulis/
Sila memberi bookmark pada halaman situs itu supaya bisa diakses kapan pun dan menjadi pedoman bagaimana dan kapan memulai latihan membaca bersama anak-anak.

Saya menarik napas panjang sambil memeluk putri semata wayang saya lekat-lekat hingga harum rambutnya memenuhi hidung. Kemudian saya meletakkan dagu di atas puncak kepalanya.
“Neng sedih, ya?”
Kepala di bawah dagu saya itu mengangguk. Saya ikut mengangguk bersamanya. Kemudian, saya menunjukkan kepadanya daun bulat-bulat bergerigi di dekat kaki kami.
“Pegagan,” kata Neng sambil menyentuh setangkai. “Enak buat jus,” tambahnya. Saya tersenyum.
“Nanti kalau ketemu Eyang lagi, coba Neng tanyakan kepadanya nama-nama pohon dan tanaman,” kata saya, setengah berbisik. Neng mendongak hingga pandangan mata kami bertemu. Ia menangkap kilau iseng di mata saya dan nyengir sama lebarnya dengan saya. (mcs2026)